Kamis, 03 Maret 2016

Melirik Potensi Sampah Sebagai Energi Terbarukan

Setiap tahunnya, jumlah sampah di dunia semakin meningkat. Begitu pula di Indonesia, permasalahan sampah menjadi masalah yang belum terselesaikan dengan baik hingga saat ini.  Indonesia menghasilkan 64 juta ton sampah per tahunnya. Potensi sampah yang begitu besar ini seharusnya bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan.

Dalam hal ini, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) didorong tidak hanya fokus menciptakan energi terbarukan dari geotermal atau sumber lainnya saja, tetapi Kementerian ESDM diminta juga melirik potensi sampah menjadi energi terbarukan.

Direktur Pengolahan Sampah Kementerian LHK, Sudirman, menegaskan ESDM jangan hanya fokus yang itu-itu saja. Tetapi cobalah mengembangkan 64 ton sampah se Indonesia. Bayangkan, 1000 tonnya mampu menghasilkan 16 MW listrik.

Sudirman mendorong Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian untuk menggelontorkan subsidi kepada sejumlah daerah yang peduli terhadap penuntasan masalah sampah. Ia mengambil contoh cukup memilih 5 kota untuk fokus dalam program pengolahan sampah. Menurutnya, ESDM harus mulai memikirkan hal ini, memprioritaskan pemanfaatan sampah menjadi energi terbarukan. Potensi sampah ini akan berkelanjutan jika sumber energi lainnya habis.


Sumber: http://economy.okezone.com/read/2015/12/14/320/1267209/64-juta-ton-sampah-bakal-disulap-jadi-energi-terbarukan



Tulisan ini disumbangkan untuk jadi artikel situs Si-Nergi

Uji Coba SPBG di Ancol

Perusahaan Gas Negara (PGN) yang berencana akan membangun 60 unit Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) hingga 2019 akan segera terealisasikan. Pasalnya, PGN melalui anak usahanya, PT Gagas Energi Indonesia (PGN Gagas) telah melakukan uji coba pengoperasian SPBG di kawasan Ancol Jakarta Utara, bekerja sama dengan PT Jakarta Propertindo (Jakpro). SPBG ini nantinya akan memasok Bahan Bakar Gas (BBG) ke 88 unit Bus TransJakarta koridor Ancol-Kampung Melayu.

Direktur Utama PGN Gagas, Danny Praditya, mengatakan bahwa PGN Gagas dan Jakpro bekerja sama membangun infrastruktur gas bumi untuk transportasi di beberapa lokasi di Jakarta. Danny juga menambahkan, selain SPBG di Ancol, dari hasil kerja sama antara PGN Gagas dengan BUMD Pemprov DKI Jakarta ini juga dibangun MRU-Online di Harmoni dan Pluit.

Lebih lanjut dikatakan, ketiga SPBG dan MRU kerja sama dengan Jakro ini dapat dipastikan akan beroperasi tahun ini. Hal ini menjadi bukti komitmen dan keseriusan PGN untuk terus mengembangkan infrastruktur gas bumi, salah satunya SPBG. Untuk tahun ini, PGN menargetkan pembangunan SPBG sebanyak 12 unit yang tersebar di beberapa titik. 

Danny berharap dengan adanya SPBG hingga MRU-online ini program langit biru dan konversi BBG yang telah dicanangkan oleh pemerintah tetap berkelanjutan.  Ia juga berharap ke depannya semakin banyak SPBG-SPBG yang akan dibangun khususnya di DKI Jakarta dan seluruh daerah lainnya di Indonesia.

Sumber: 
http://www.gatra.com/ekonomi/makro/185946-pgn-akan-bangun-60-unit-spbg-hingga-2019
http://www.suara.com/bisnis/2016/02/10/144801/pgn-gagas-mulai-uji-coba-spbg-di-kawasan-ancol


Tulisan ini disumbangkan untuk jadi artikel situs Si-Nergi


PGN Akan Bangun 60 Unit SPBG Hingga 2019

Rencana Perusahaan Gas Negara (PGN) untuk membangun 60 unit Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas  (SPBG PGN) akan segera terwujud. Menurut Direktur Utama PGN, Hendi Prio Santoso, rencana pembangunan tersebut akan dimulai pada 2016-2019 mendatang. Hendi menyebutkan, dari 60 SPBG itu akan tersebar di beberapa wilayah seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, Batam, Lampung, Riau, dan Sumatera Barat.

Lebih lanjut dikatakan, hingga saat ini PGN telah mengoperasikan 5 unit SPBG dan menyalurkan gas bumi ke 14 SPBG mitra. Tak hanya itu, untuk sektor transportasi pun PGN telah menyalurkan gas bumi dengan menggunakan Mobile Refueling Unit (MRU) di beberapa titik seperti IRTI Monas, Waduk Pluit, Grogol, dan Gresik.

PGN sebagai satu-satunya badan usaha di Indonesia yang menyalurkan gas bumi ke berbagai sektor pelanggan. Berbagai sektor tersebut sudah merasakan manfaat gas yang disalurkan PGN, mulai dari rumah tangga, usaha kecil menengah (UKM), komersial (hotel, mal, rumah sakit), industri, dan kelistrikan.

Melalui penyaluran gas bumi PGN ke berbagai sektor pelanggan, pada 2015 negara mendapat penghematan Rp 88 triliun. Penghematan itu bersumber dari pemanfaatn gas yang disalurkan PGN sebanyak 1.586 MMScfd atau setara penggunaan 286.000 barel minyak per hari.


Sumber: 
https://www.aktual.com/pgn-akan-bangun-60-unit-spbg-hingga-2019/
http://m.metrotvnews.com/read/2016/02/10/482121/pgn-targetkan-bangun-60-unit-spbg-hingga-2019



Tulisan ini disumbangkan untuk jadi artikel situs Si-Nergi

Rabu, 02 Maret 2016

Tujuh Syarat Energi Terbarukan Agar Sukses

Kehadiran energi terbarukan diharapkan mampu menjadi energi alternatif bagi Indonesia dalam jangka panjang. Mengingat permintaan energi nasional tumbuh lebih tinggi dibanding permintaan energi global. Menurut International Energy Agency (IEA), pertumbuhan energi global dalam satu dekade ini mencapai 1,4 persen. Bisa dibandingkan dengan pertumbuhan permintaan energi nasional pertahunnya yang mencapai  3 hingga 4 persen.

Untuk itu, ada tujuh hal yang perlu diperhatikan pemerintah agar energi terbarukan dapat digunakan oleh masyarakat. Ketujuh hal tersebut adalah penetapan harga jual listrik sesuai tingkat keekonomian, pemberian subsidi, pemberian insentif, kemudahan perizinan, penataan lahan untuk kepentingan energi, tata kelola pemerintah yang terjaga dan bersih, serta penegakan hukum yang adil.

Ketujuh hal ini merupakan syarat yang harus segera dipenuhi pemerintah dari berbagai sektor. Hal itu demi menekan biaya penggunaan energi terbarukan yang saat ini masih tergolong mahal. Setelah pemerintah mampu memenuhi ketujuh syarat ini, diharapkan energi terbarukan dapat dinikmati dan dijangkau oleh semua kalangan.


Sumber: http://economy.okezone.com/read/2015/11/25/320/1255785/tujuh-syarat-energi-baru-terbarukan-untuk-sukses


Tulisan ini disumbangkan untuk jadi artikel situs Si-Nergi


Mengenal Lebih Dekat Energi Terbarukan

Energi terbarukan disebut juga energi berkelanjutan (sustainabel energy) merupakan sumber energi yang cepat dipulihkan kembali secara alami, dan prosesnya berkelanjutan. Energi terbarukan dihasilkan dari sumber daya energi yang secara alami tidak akan habis bahkan prosesnya akan berkelanjutan jika dikelola dengan baik.

Konsep energi terbarukan ini mulai dikenal di dunia pada tahun 1970-an. Kemunculannya sebagai antitesis terhadap pengembangan dan penggunaan energi berbahan fosil (batubara, gas alam, dan minyak bumi) dan nuklir.

Indonesia sendiri merupakan salah satu negara dengan potensi energi terbarukan yang sangat melimpah. Sayangnya, sumber-sumber energi terbarukan yang ada belum dimanfaatkan dengan maksimal. Kehadiran energi terbarukan ini dinilai lebih baik dibanding energi fosil karena lebih ramah terhadap lingkungan.


Sumber: http://alamendah.org/2014/09/09/8-sumber-energi-terbarukan-di-indonesia/


Tulisan ini disumbangkan untuk jadi artikel situs Si-Nergi






Selasa, 01 Maret 2016

Thorium Sebagai Energi Alternatif

Di Indonesia, jumlah cadangan thorium terbanyak berada di Kepulauan Bangka. Terdapat 121 ribu ton thorium di wilayah tersebut berpotensi menghasilkan energi listrik sebanyak 90 persen. Cadangan ini tentunya bisa menjadi energi alternatif di Indonesia.

Dalam pemanfaatan pembangkit listrik tenaga nuklir, kandungan thorium lebih aman dan lebih bersih daripada uranium. Thorium yang digadang-gadang sebagai energi alternatif ini terbukti lebih ramah lingkungan daripada uranium. Bahkan ketersedian cadangannya pun tiga kali lebih banyak dibandingkan uranium. 

Fakta menarik lainnya terletak dari aspek limbahnya yang relatif lebih sedikit dari uranium yang diklaim oleh Thorium Indonesia Power. Dapat dipastikan limbah thorium lebih sedikit dibanding uranium yang bisa berkisar 300 meter per kubik dalam setahun dengan ukuran pembangkit listrik sebanyak 1000 MegaWatt (MW). Lebih dari itu, thorium memiliki nilai yang lebih positif untuk dijadikan pengganti energi alternatif dibanding uranium.




Tulisan ini disumbangkan untuk jadi artikel situs Si-Nergi 

Bangun 60 Unit SPBG, Target PGN Hingga 2019

PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) terus berencana membangun infrastruktur gas bumi di Indonesia, salah satunya dengan membangun Stasiun Bahan Bakar Gas (SPBG PGN) sebanyak 60 unit hingga 2019 mendatang.

Rencana pembangunan SPBG tersebut akan dimulai pada 2016 hingga 2019 dan tersebar di beberapa wilayah, di antaranya DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, Batam, Lampung, Riau, dan Sumatera Barat.

Hingga kini, PGN telah mengoperasikan lima unit SPBG dan menyalurkan gas bumi ke 14 SPBG mitra. PGN juga menjadi satu-satunya badan usaha di Indonesia yang menyalurkan gas bumi ke berbagai sektor, lebih dari 107.690 rumah tangga, 1.857 pelanggan komersial dan usaha kecil menengah (UKM), dan 1.529 industri, serta pembangkit listrik.

Untuk sektor transportasi, PGN menyalurkan gas bumi dengan menggunakan mobile refueling unit (MRU) di beberapa lokasi seperti di Lapangan Restoran dan Taman Indonesia (IRTI) Monas, Waduk Pluit, Grogol, dan Gresik. Saat ini, PGN sudah memasok gas bumi untuk bahan bakar bus, bajaj, taksi, hingga kendaraan pribadi.

Infrastruktur gas bumi dibangun menggunakan dana PGN dan tidak memakan dana APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara).



Tulisan ini disumbangkan untuk jadi artikel situs Si-Nergi